Minggu, 07 September 2025

Impianku

 Aku lahir dari dapur yang sering kehabisan api,

dari genteng bocor dan dinding yang tahu bahasa hujan.
Orang tuaku bukan siapa-siapa,
tapi di mata mereka, aku adalah harapan
yang mereka sulam dari doa dan sisa tenaga.

Aku ingin membalas—
bukan sekadar membelikan sepatu baru,
tapi menukar lelah mereka dengan tenang,
menghapus hutang dari punggung yang sudah terlalu lama membungkuk.

Tapi hari-hariku,
hanyalah barisan angka yang tak cukup di dompet,
waktu yang habis untuk bertahan,
dan mimpi yang terasa mewah,
di tengah realita yang serba pas-pasan.

Kadang aku iri pada hidup orang lain
yang tampaknya lebih mudah mencintai hari-hari mereka.
Tapi aku tahu,
Tuhan menempatkanku di bawah
agar aku belajar membangun, bukan mengeluh.

Aku masih di sini,
belum jadi siapa-siapa,
tapi aku percaya:
kemiskinan hanya tempat awal, bukan tujuan akhir.

Suatu hari nanti,
aku tak akan lagi mengadu nasib,
tapi berbagi rezeki.
Orang tuaku tak akan lagi antre bantuan,
tapi duduk di depan rumah
menatap sore dengan senyum penuh syukur.

Aku belum sampai—
tapi aku sedang menuju.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menjemput Rezeki Part 1

 Seusai sholat Subuh kuberanikan diri menyalakan laptopku. Melakukan banyak hal yang mungkin bisa menjadi ladang pahala dan rezeki baru untu...