Seusai sholat Subuh kuberanikan diri menyalakan laptopku. Melakukan banyak hal yang mungkin bisa menjadi ladang pahala dan rezeki baru untukku. Akhir bulan ini aku berencana, eh bukan tapi sudah pasti meninggalkan pekerjaan yang sudah setahun ini kutekuni. Memang tidak banyak uang gaji dan tabungan yang aku dapatkan. Namun pendapatan itu cukup menghidupi diriku sendiri di kota besar ini.
Tidak kusangka aku akan meninggalkan pekerjaan yang telah kutekuni selama setahun ini dengan begitu cepat. Aku sangat menyukai pekerjaan ini tapi aku memilih pergi hanya demi menyelamatkan diriku sendiri. Demi melindungi diriku sendiri. Entah apa yang kulindungi, entah dari siapa. Egoku masih saja mencari-cari pembenaran bahwa keputusan yang kuambil adalah benar. Meskipun pikiran dan hatiku dipenuhi oleh rasa penyesalan.
Meski terkesan dipaksakan, kupikir ini jalan terbaik yang bisa kuambil. Orang-orang terdekatku selalu menyemangatiku. Meyakinkan diriku kalau pasti akan ada pekerjaan lain yang lebih baik. Pasti akan ada tempat yang lebih bisa menghargai diriku. Kamu memang kehilangan pekerjaan tapi kamu tidak kehilangan rezeki.
Disaat-saat seperti ini, sebuah kalimat "ini hanya dunia" cukup berarti besar buatku. Kadang mantra itu cukup menenangkan batinku yang sedang kalut. Mantra itu selalu mengingatkanku bahwa kehidupan dunia hanya sementara, tidak perlu begitu keras mengejarnya.
Ikhlas dan kelapangan hati dua kata yang selalu kusebutkan di setiap doa setelah sholatku akhir-akhir ini. Memang begitu berat rasanya menjalani takdir yang tidak sesuai dengan harapan kita. Dari kejadian ini membuatku lebih mengerti makna dari kehidupanku yang sesungguhnya. Otaku selalu membuat narasi bahwa dibalik semua ini pasti ada hikmahnya. Jika Allah tidak memberiku A, maka akan ada jalan B yang lebih baik.
Kuakui kecerobohan ini mungkin terlihat seperti menghancurkan diriku sendiri. Tapi di sisi lain aku tumbuh, seperti mekar menjadi bentuk lain. Kejadian ini memberi banyak pelajaran. Bukan untuk diriku sendiri melainkan juga untuk seseorang di sana. Keputusan ini mengajarkanku arti pentingnya komunikasi serta menghargai.
Seseorang yang pada akhirnya memilih pergi, pasti memiliki banyak kecewa yang dipendam sendiri. Tapi apapun bentuk kekecewaan itu, kuharap kamu bisa mengkomunikasikannya. Seperti yang kulakukan beberapa hari terakhir ini.
Aku sudah begitu banyak memendam rasa kecewa hingga akhirnya kuputuskan untuk memberikan surat resign kepada atasanku. Meski dengan alasan yang terkesan kucari-cari. Banyak kontra yang kudapatkan dari berbagai pihak. Tapi ini jalan yang kupilih. Mereka tidak merasakan jadi aku. Mereka tidak merasakan perihnya merawat luka sendirian.
Dari kepergianku ini, aku harap ada seseorang di sana yang akhirnya sadar dengan kesalahannya. Aku tidak ingin dia merasa kehilangan. Aku hanya ingin dia bisa lebih menghargai hadirnya seseorang. Semoga kita bisa bahagia dengan jalan kita masing-masing.