Kamis, 11 September 2025

Menjemput Rezeki Part 1

 Seusai sholat Subuh kuberanikan diri menyalakan laptopku. Melakukan banyak hal yang mungkin bisa menjadi ladang pahala dan rezeki baru untukku. Akhir bulan ini aku berencana, eh bukan tapi sudah pasti meninggalkan pekerjaan yang sudah setahun ini kutekuni. Memang tidak banyak uang gaji dan tabungan yang aku dapatkan. Namun pendapatan itu cukup menghidupi diriku sendiri di kota besar ini.

Tidak kusangka aku akan meninggalkan pekerjaan yang telah kutekuni selama setahun ini dengan begitu cepat. Aku sangat menyukai pekerjaan ini tapi aku memilih pergi hanya demi menyelamatkan diriku sendiri. Demi melindungi diriku sendiri. Entah apa yang kulindungi, entah dari siapa. Egoku masih saja mencari-cari pembenaran bahwa keputusan yang kuambil adalah benar. Meskipun pikiran dan hatiku dipenuhi oleh rasa penyesalan.

Meski terkesan dipaksakan, kupikir ini jalan terbaik yang bisa kuambil. Orang-orang terdekatku selalu menyemangatiku. Meyakinkan diriku kalau pasti akan ada pekerjaan lain yang lebih baik. Pasti akan ada tempat yang lebih bisa menghargai diriku. Kamu memang kehilangan pekerjaan tapi kamu tidak kehilangan rezeki. 

Disaat-saat seperti ini, sebuah kalimat "ini hanya dunia" cukup berarti besar buatku. Kadang mantra itu cukup menenangkan batinku yang sedang kalut. Mantra itu selalu mengingatkanku bahwa kehidupan dunia hanya sementara, tidak perlu begitu keras mengejarnya.

Ikhlas dan kelapangan hati dua kata yang selalu kusebutkan di setiap doa setelah sholatku akhir-akhir ini. Memang begitu berat rasanya menjalani takdir yang tidak sesuai dengan harapan kita. Dari kejadian ini membuatku lebih mengerti makna dari kehidupanku yang sesungguhnya. Otaku selalu membuat narasi bahwa dibalik semua ini pasti ada hikmahnya. Jika Allah tidak memberiku A, maka akan ada jalan B yang lebih baik.

Kuakui kecerobohan ini mungkin terlihat seperti menghancurkan diriku sendiri. Tapi di sisi lain aku tumbuh, seperti mekar menjadi bentuk lain. Kejadian ini memberi banyak pelajaran. Bukan untuk diriku sendiri melainkan juga untuk seseorang di sana. Keputusan ini mengajarkanku arti pentingnya komunikasi serta menghargai.

Seseorang yang pada akhirnya memilih pergi, pasti memiliki banyak kecewa yang dipendam sendiri. Tapi apapun bentuk kekecewaan itu, kuharap kamu bisa mengkomunikasikannya. Seperti yang kulakukan beberapa hari terakhir ini.

Aku sudah begitu banyak memendam rasa kecewa hingga akhirnya kuputuskan untuk memberikan surat resign kepada atasanku. Meski dengan alasan yang terkesan kucari-cari. Banyak kontra yang kudapatkan dari berbagai pihak. Tapi ini jalan yang kupilih. Mereka tidak merasakan jadi aku. Mereka tidak merasakan perihnya merawat luka sendirian.

Dari kepergianku ini, aku harap ada seseorang di sana yang akhirnya sadar dengan kesalahannya. Aku tidak ingin dia merasa kehilangan. Aku hanya ingin dia bisa lebih menghargai hadirnya seseorang. Semoga kita bisa bahagia dengan jalan kita masing-masing.

Minggu, 07 September 2025

Impianku

 Aku lahir dari dapur yang sering kehabisan api,

dari genteng bocor dan dinding yang tahu bahasa hujan.
Orang tuaku bukan siapa-siapa,
tapi di mata mereka, aku adalah harapan
yang mereka sulam dari doa dan sisa tenaga.

Aku ingin membalas—
bukan sekadar membelikan sepatu baru,
tapi menukar lelah mereka dengan tenang,
menghapus hutang dari punggung yang sudah terlalu lama membungkuk.

Tapi hari-hariku,
hanyalah barisan angka yang tak cukup di dompet,
waktu yang habis untuk bertahan,
dan mimpi yang terasa mewah,
di tengah realita yang serba pas-pasan.

Kadang aku iri pada hidup orang lain
yang tampaknya lebih mudah mencintai hari-hari mereka.
Tapi aku tahu,
Tuhan menempatkanku di bawah
agar aku belajar membangun, bukan mengeluh.

Aku masih di sini,
belum jadi siapa-siapa,
tapi aku percaya:
kemiskinan hanya tempat awal, bukan tujuan akhir.

Suatu hari nanti,
aku tak akan lagi mengadu nasib,
tapi berbagi rezeki.
Orang tuaku tak akan lagi antre bantuan,
tapi duduk di depan rumah
menatap sore dengan senyum penuh syukur.

Aku belum sampai—
tapi aku sedang menuju.

Aku masihlah milik-Mu Tuhan

 Aku berdiri

di antara jalan yang tak bernama,
di tengah hari yang tak memberi petunjuk,
dengan kepala penuh tanya
dan hati yang tak tahu harus berharap pada siapa.

Masa depan, katamu,
adalah tentang rencana dan tekad baja.
Tapi bagaimana jika aku bahkan tak tahu
ke mana harus melangkah?

Aku mencari arti hidup
di buku-buku, di suara orang tua,
di percakapan tengah malam,
namun jawabannya seperti kabut:
terlihat samar, hilang ketika didekati.

Maka malam ini,
aku tidak lagi memaksa.
Aku tidak ingin menebak takdir,
atau menuntut langit membuka rahasia.

Aku hanya duduk,
diam,
dan menengadah dengan hati terbuka.

“Tuhan, jika aku harus tersesat—
maka sesatkanlah aku ke jalan yang Kau ridhai.
Jika aku harus berjalan dalam gelap—
maka jadilah cahaya meski hanya setitik.
Dan jika aku harus menunggu—
maka tabahkan aku,
agar sabarku bukan sia-sia.”

Sebab aku tahu,
tak semua arah harus kupilih sendiri.
Kadang, arah terbaik
adalah ketika aku berhenti memilih
dan mulai mengikuti.

Kuikhlaskan meski menyisakan kekosongan

 Aku pernah mencintaimu

seperti laut mencintai langit—
tak pernah bersentuhan,
tapi selalu menengadah.

Aku pernah mengirim namamu
dalam doa yang tidak bersuara,
di malam yang hanya tahu satu bahasa:
menahan.

Dan aku mengira,
cinta yang tulus akan cukup
untuk membuat semesta luluh,
untuk membuat waktu berpihak,
untuk membuatmu tinggal.

Ternyata tidak.

Ternyata, cinta tidak selalu berarti memiliki.
Ternyata, semesta punya logikanya sendiri
yang tak bisa dibantah oleh air mata
atau rindu yang diam-diam kita pelihara.

Maka hari ini,
aku melepaskanmu
bukan karena cinta ini padam—
tapi karena cinta ini terlalu besar
untuk terus dikurung dalam harap yang tak bisa pulang.

Aku belajar bahwa mengikhlaskan
bukan berarti berhenti mencinta,
tapi berhenti melawan takdir
yang sejak awal tak memihak kita.

Semoga kau bahagia—
walau bukan denganku.

Dan semoga hatiku pulih—
walau pelan, walau sendiri.

Mantra dari Kekosongan

 Wahai jiwa yang terpanggil keluar,

dari meja, layar, dan angka-angka yang tak lagi bergema,
dengarkan suara sunyi yang kini menggema:
Ini bukan akhir. Ini adalah awal mula.

Terkadang hidup mengusir kita dari pelabuhan
agar kita belajar menjadi lautan.
Terkadang kursi ditarik dari bawah punggung kita
agar kita berdiri dan berjalan ke arah cahaya.

Maka katakan:
Aku tidak kehilangan, aku dilepaskan.
Aku tidak terbuang, aku sedang dialihkan.
Yang kosong bukan kutukan, tapi kanvas.
Yang sunyi bukan kiamat, tapi panggilan.

Langit tak pernah bertanya padamu apa jabatanmu,
ia hanya menunggu kapan engkau berani menjadi utuh.
Bumi tak butuh tanda tanganmu di kontrak,
ia hanya butuh langkahmu—meski gemetar,
menuju arah yang belum sempat kau lihat.

Ucapkan dalam diam,
atau dengan suara retak sekalipun:

Aku tetap ada. Aku tetap bernilai.
Aku belum selesai. Aku akan tumbuh lagi.

Dan jika suatu pagi nanti,
kau buka blog yang kosong itu dengan jari gemetar—
ingatlah:
dari kekosongan inilah alam semesta pertama kali dicipta.

Menjemput Rezeki Part 1

 Seusai sholat Subuh kuberanikan diri menyalakan laptopku. Melakukan banyak hal yang mungkin bisa menjadi ladang pahala dan rezeki baru untu...