Aku pernah mencintaimu
seperti laut mencintai langit—
tak pernah bersentuhan,
tapi selalu menengadah.
Aku pernah mengirim namamu
dalam doa yang tidak bersuara,
di malam yang hanya tahu satu bahasa:
menahan.
Dan aku mengira,
cinta yang tulus akan cukup
untuk membuat semesta luluh,
untuk membuat waktu berpihak,
untuk membuatmu tinggal.
Ternyata tidak.
Ternyata, cinta tidak selalu berarti memiliki.
Ternyata, semesta punya logikanya sendiri
yang tak bisa dibantah oleh air mata
atau rindu yang diam-diam kita pelihara.
Maka hari ini,
aku melepaskanmu
bukan karena cinta ini padam—
tapi karena cinta ini terlalu besar
untuk terus dikurung dalam harap yang tak bisa pulang.
Aku belajar bahwa mengikhlaskan
bukan berarti berhenti mencinta,
tapi berhenti melawan takdir
yang sejak awal tak memihak kita.
Semoga kau bahagia—
walau bukan denganku.Dan semoga hatiku pulih—
walau pelan, walau sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar